Kisah Dakwah Nabi Ibrahim dengan Cara Menghancurkan Berhala

Kisah Dakwah Nabi Ibrahim dengan Cara Menghancurkan Berhala
Allah mengubah neraka buatan manusia itu menjadi taman hijau yang sejuk bagi Ibrahim. Foto/Ilustrasi: Ist
Sudah menjadi tradisi, tatkala mendekati hari perayaan, penduduk Babilon ramai-ramai berangkat ke hutan untuk melepaskan lelah, memulihkan tenaga mereka, dan melaksanakan upacara perayaan itu. Akibatnya, kota menjadi sepi.

Kala itu, Ibrahim sedang sakit sehingga tidak ikut upacara perayaan. "Sesungguhnya, itulah hari gembira bagi sang tokoh tauhid, sebagaimana bagi para musyrik itu," tulis ulama fikih , ushul, tafsir dan ilmu kalam, Ja'far Subhani, dalam bukunya berjudul "Ar-Risalah, Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW" (PT Lentera Basritama , 2004)

Bagi kaum musyrik , jelasnya, itu adalah pesta perayaan yang sangat tua. Mereka pergi ke kaki gunung di lapangan-lapangan hijau untuk melaksanakan upacara perayaan dan menghidupkan adat kebiasaan nenek moyang mereka.

Bagi si jawara tauhid, hari itu pun merupakan hari raya besar pertama yang telah lama dirindukannya, untuk menghancurkan manifestasi kekafiran dan kemusyrikan, ketika kota sedang bersih dan lawan-lawannya.

Ketika "kloter" terakhir penduduk meninggalkan kota, Ibrahim merasa bahwa saat itulah kesempatannya. Dengan hati penuh keyakinan dan iman kepada Allah, beliau memasuki rumah berhala.

Di dalamnya beliau menemukan penggalan-penggalan kayu berpahat, berhala-berhala yang tak bernyawa. Ia ingat akan banyaknya makanan yang biasa dibawa oleh para penyembah berhala ke kuil mereka sebagai sajian untuk beroleh rahmat.

Beliau lalu mengambil sepiring roti yang ada di situ. Sambil mengunjukkannya kepada berhala-berhala itu, beliau berkata mengejek, "Mengapa tidak kamu makan segala macam makanan ini?"

Tentulah tuhan buatan kaum musyrik itu tak mampu bergerak sedikit pun, apalagi memakan sesuatu. Keheningan membisu menguasai kuil berhala yang luas itu, yang hanya terpecah oleh pukulan-pukulan keras Ibrahim pada tangan, kaki, dan tubuh berhala-berhala itu.

Ia menghancurkan semua berhala itu, hingga menjadi tumpukan puing kayu dan logam yang berhamburan di tengah kuil itu. Tetapi, ia membiarkan berhala yang paling besar, lalu meletakkan kapak di bahunya.

Ini dilakukannya dengan sengaja. Ia tahu bahwa ketika kembali dari hutan, kaum musyrik akan memahami kedudukan sesungguhnya dan akan memandang situasi yang nampak itu sebagai sengaja dibuat-buat, karena tak akan mungkin mereka percaya bahwa penghancuran berhala-berhala lain itu telah dilakukan oleh berhala besar yang sama sekali tak berdaya untuk bergerak atau melakukan sesuatu.
Pada saat itu, beliau pun akan menggunakan situasi itu untuk dakwah. Mereka sendiri akan mengaku bahwa berhala itu sama sekali tidak mempunyai kekuatan. Maka bagaimana mungkin ia akan menjadi penguasa dunia?

Matahari bergerak turun di cakrawala. Orang mulai pulang berkelompok-kelompok ke kota. Waktu untuk melaksanakan upacara pemujaan berhala pun tiba, dan sekelompok penyembah berhala memasuki kuil.

Pemandangan yang tak terduga, yang dengan jelas menunjukkan
nistanya dan rendahnya tuhan-tuhan mereka, menghentakkan mereka semua. Hening seperti maut meliputi kuil itu. Setiap orang gelisah. Tetapi, salah seorang di antara mereka memecahkan kesunyian dengan berkata, "Siapa yang telah melakukan kejahatan ini?"

Kutukan terhadap berhala oleh Ibrahim di waktu lalu, dan kecamannya yang terang-terangan terhadap pemujaan berhala, meyakinkan mereka bahwa hanya dialah yang mungkin melakukan semua itu. Sidang pengadilan pun diadakan di bawah pengawasan Namrud, dan si remaja Ibrahim serta ibunya dibawa ke pengadilan.

Si ibu dituduh menyembunyikan kelahiran anaknya dan tidak melaporkannya ke kantor khusus pemerintahan untuk dibunuh. Ia memberikan jawaban atas tuduhan itu:

"Saya menyimpulkan bahwa sebagai akibat keputusan terakhir pemerintah waktu itu -yakni pembunuhan anak-anak-manusia di negara ini sedang dimusnahkan. Saya tidak memberitahukan kepada kantor pemerintah tentang putra saya, karena saya hendak melihat bagaimana ia maju di masa depan. Apabila ia membuktikan diri sebagai orang yang telah diramalkan para pendeta peramal itu, akan ada alasan bagi saya untuk melaporkannya kepada polisi agar mereka tidak lagi menumpahkan darah anak-anak lain. Dan apabila ia ternyata bukan orang itu, maka saya telah menyelamatkan seorang muda di negara ini
dari pembunuhan."

Argumen ibu itu sangat memuaskan para hakim.

Sekarang Ibrahim diperiksa. "Keadaan menunjukkan bahwa berhala besar telah melakukan semua pukulan itu. Dan apabila berhala itu dapat berkata, sebaiknya Anda tanyakan kepadanya."

Jawaban bernada ejekan dan penghinaan ini dimaksudkan untuk mencapai sasaran lain. Ibrahim yakin bahwa orang-orang itu akan berkata, "Ibrahim! Engkau tahu sepenuhnya bahwa berhala-berhala itu tak dapat berbicara. Mereka pun tidak mempunyai kehendak atau akal."

Dalam hal itu, Ibrahim dapat meminta perhatian sidang pengadilan tentang satu hal yang mendasar. Kebetulan, apa yang terjadi sama dengan yang diharapkannya.

Sehubungan dengan pernyataan orang-orang itu yang membuktikan kelemahan, kehinaan, dan tidak berdayanya berhala-berhala itu, Ibrahim berkata, "Apabila mereka memang demikian, mengapa kamu menyembah dan berdoa kepada mereka untuk mengabulkan permohonan kamu?"

Kejahilan, keras kepala, dan peniruan membuta menguasai hati dan pikiran para hakim. Terhadap jawaban Ibrahim yang tak terbantah itu, mereka tidak beroleh pilihan lain kecuali memberikan keputusan yang sesuai dengan keinginan pemerintah masa itu. Ibrahim harus dibakar hidup-hidup.

Setumpukan besar kayu bakar dinyalakan, dan jawara tauhid itu dilemparkan ke dalam api yang berkobar. Namun, Allah Yang Mahkuasa mengulurkan tangan kasih dan rahmat-Nya kepada Ibrahim dan menjadikanNya kebal. Allah mengubah neraka buatan manusia itu menjadi taman hijau yang sejuk.

(mhy)
Miftah H. Yusufpati

No comments: