Catatan Sejarah: Omong Kosong Perdana Menteri Israel Levi Eshkol saat Perang Atrisi

 Catatan Sejarah: Omong Kosong Perdana Menteri Israel Levi Eshkol saat Perang Atrisi

Perdana Menteri Israel (1963-1969) Levi Eshkol
Perang Atrisi berlangsung antara Israel dan Mesir dengan artileri dan komando sepanjang Terusan Suez di Semenanjung Sinai dan dengan misil dan pesawat perang di atas langit Mesir. Tidak pernah pertempuran berlangsung di dalam wilayah Israel sendiri.

"Pertikaian yang mendasarinya terletak pada kegigihan Israel untuk tetap bertahan di wilayah Mesir yang direbutnya pada 1967 dan usaha-usaha Mesir untuk mendapatkannya kembali," jelas Mantan anggota Kongres AS , Paul Findley (1921 – 2019).

Perdana Menteri Israel kala itu, Levi Eshkol, mengatakan, Israel mematuhi persetujuan gencatan senjata. "Pihak lain melanggarnya," ujarnya.

Paul Findley, dalam bukunya berjudul "Deliberate Deceptions: Facing the Facts about the U.S. - Israeli Relationship" yang diterjemahkan Rahmani Astuti menjadi "Diplomasi Munafik ala Yahudi - Mengungkap Fakta Hubungan AS-Israel" (Mizan, 1995) menyebutnya sebagai omong kosong.

Faktanya, ujar Paul Findley, kelanjutan dari gencatan senjata yang mengakhiri perang 1967 sejalan dengan kebijaksanaan ekspansionis Israel. Ini karena pertempuran berakhir dengan pasukan Israel ditempatkan di tanah yang dimiliki oleh semua tetangga Arab yang mengelilingi Israel kecuali Lebanon. Kepatuhan pada gencatan senjata karenanya berarti bahwa Israel dapat melanjutkan pendudukannya tanpa usaha serius dan sekaligus dapat menguasai tanah yang direbutnya.

Segera setelah perang 1967 Israel menjelaskan bahwa "posisi yang ada sekarang tidak akan pernah berubah lagi," dalam kata-kata Perdana Menteri Levi Eshkol.

Bagi orang-orang Arab, ini berarti pesan bahwa Israel berencana untuk mempertahankan tanah-tanah yang telah direbut dan bahwa satu-satunya jalan untuk membuat Israel menyerahkan wilayah-wilayah taklukannya sesuai dengan Resolusi PBB 242 adalah melalui tekanan militer.

Perang Atrisi berkembang dengan lambat. Satu langkah besar diambil satu tahun setelah perang 1967 ketika para penembak Israel melemparkan sekitar 450 granat artileri ke Terusan Suez di ujung selatan terusan itu, yang membunuh 43 orang sipil Mesir dan melukai 67 orang lainnya. Setidak-tidaknya seratus bangunan --rumah-rumah, toko-toko, sebuah masjid, sebuah gereja, sebuah gedung bioskop-- rusak atau hancur dalam bombardemen itu.

Israel mengatakan bahwa Mesir telah memulai insiden itu dengan menembaki pasukannya yang ditempatkan di Terusan Suez dan bahwa pasukan Israel telah menembaki Terusan Suez untuk membungkam senjata-senjata Mesir.

Sebelumnya kota itu dihuni 260.000 orang, namun setelah terjadinya bombardemen besar-besaran oleh Israel pada bulan Oktober, sekitar 200.000 orang pergi. Sejak itu sekitar 40.000 orang telah kembali, membuat penduduk kota tinggal sekitar 100.000 orang. Banyak di antaranya yang pergi setelah penembakan Israel pada pertengahan 1968.

Langkah besar lain untuk memulai perang adalah keputusan Israel dalam bulan September 1968 untuk membangun Bar-Lev Line sepanjang terusan. Ini merupakan sebuah sistem posisi militer yang dibentengi dengan sangat kuat sepanjang 101 mil yang dimaksudkan untuk menahan serangan artileri Mesir melintasi terusan.

Akan tetapi di mata Mesir itu merupakan ketetapan hati Israel untuk mempertahankan Sinai dengan menempatkan pasukan Israel di Terusan Suez secara permanen.

Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser berulang kali memperingatkan secara terbuka bahwa jika Israel meneruskan pendudukannya atas tanah Mesir dia akan menggunakan kekerasan untuk merebutnya kembali: "Prioritas pertama, prioritas mutlak dalam pertempuran ini adalah garis depan militer, sebab kita harus menyadari bahwa musuh tidak akan menarik diri kecuali jika kita memaksanya untuk mundur melalui pertempuran."

Nasser menerapkan kata-katanya dalam tindakan pada awal 1969 dengan melepaskan serangan-serangan artileri dan komando melawan kekuatan Israel di Sinai.

Sebelum pertempuran berakhir, Israel menggunakan pesawat-pesawat perang F-4 buatan AS yang baru untuk melancarkan serangan-serangan hebat di dalam wilayah Mesir, yang menimbulkan kerusakan parah di kalangan penduduk sipil dan menyerang daerah-daerah dekat Kairo.

Uni Soviet menanggapi dengan mengirim pilot-pilot dan pesawat-pesawat Soviet untuk melindungi langit Mesir.

Sekali lagi, Timur Tengah mengancam akan melibatkan kedua adikuasa itu dalam suatu konfrontasi langsung. Masuknya Soviet mendorong Amerika Serikat untuk mengusahakan gencatan senjata, yang berhasil dicapai pada Agustus 1970.
(mhy)
Miftah H. Yusufpati

No comments: