Kisah Pelobi Utama Yahudi Menghalangi AS Jual Senjata ke Arab Saudi

 Kisah Pelobi Utama Yahudi Menghalangi AS Jual Senjata ke Arab Saudi

Sejak kekalahan AWACS, AIPAC telah sepenuhnya berhasil memacu diri dan berkembang sangat pesat. Foto/Ilustrasi: AF MIL
American Israel Public Affairs Committee atau AIPAC adalah kelompok lobi utama yang mendukung Israel di Amerika Serikat sejak 1951. Kelompok ini selalu menghalang-halangi penjualan persenjataan AS kepada negara-negara Arab, terutama Arab Saudi .

"Tidak ada justifikasi bagi penjualan pesawat yang paling canggih dari gudang senjata Amerika kepada Saudi Arabia," ujar AIPAC, kala itu.

Mantan anggota Kongres AS , Paul Findley (1921 – 2019) mengatakan Saudi Arabia patut mendapatkan apa pun yang dibutuhkannya untuk membela diri.

"Nilai dari hubungan istimewa Amerika yang erat dengan kerajaan itu, yang dikembangkan selama lebih dari setengah abad, sudah terbukti setiap hari ketika orang-orang Amerika mengkonsumsi minyak," tulis Paul Findley, dalam bukunya berjudul "Deliberate Deceptions: Facing the Facts about the U.S. - Israeli Relationship" yang diterjemahkan Rahmani Astuti menjadi "Diplomasi Munafik ala Yahudi - Mengungkap Fakta Hubungan AS-Israel" (Mizan, 1995).

Saudi Arabia, produsen utama dan penentu-harga minyak, juga sekutu yang strategis, sebagaimana terbukti secara dramatis pada 1990-1991 ketika pasukan dan pesawat Amerika menggunakan wilayah Saudi --bukan Israel-- untuk memaksa Irak keluar dari Kuwait.

Keuntungan lain yang tidak banyak diketahui dalam penjualan senjata-senjata ke Saudi Arabia adalah bahwa Riyadh membayar tunai, tidak seperti Israel, yang menerima senjata-senjata AS tanpa biaya --suatu tamparan bagi para pembayar pajak Amerika.

"Meskipun AS berkepentingan untuk membantu Saudi Arabia demi pertahanan dirinya, Israel dan para pendukungnya secara terus-menerus telah menentang penjualan senjata ke kerajaan tersebut," ujar Paul Findley.

Tentangan terhadap proliferasi senjata-senjata itu dapat diterima seandainya Washington mempunyai program kontrol persenjataan koheren yang diterapkan pada semua pihak.

Namun, kata Paul Findley, dengan berulang kalinya terjadi agresi Israel dan tuntutan-tuntutannya yang tak henti-henti akan pasokan senjata-senjata AS, adalah suatu kemunafikan yang luar biasa di pihak Israel jika ia menentang penjualan senjata ke Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya pada saat yang sama sementara ia kekenyangan dengan persenjataan Amerika.

Petikaian Paling Lama

Paul Findley menyebut pertikaian paling besar, paling lama, dan paling keras antara AIPAC dan Gedung Putih mengenai penjualan persenjataan terjadi pada 1981 ketika Presiden Reagan memutuskan untuk menjual lima buah pesawat AWACS (sistem kontrol dan peringatan udara) seharga US$8,5 milyar kepada Saudi Arabia.

AIPAC dan Israel memberikan tekanan pada para wakil kongres dan senator untuk menggagalkan persetujuan itu. Mereka hampir berhasil. Baru setelah melalui pertikaian panjang dan sulit pada akhirnya Reagan menang dengan suara Senat 52 berbanding 48. Ketika melakukan hal itu Reagan mengingatkan para perumus undang-undang dan negeri itu bahwa "perumusan kebijaksanaan luar negeri Amerika bukanlah urusan negara-negara lain."

Pada akhirnya, seorang pengamat melukiskan pertikaian itu sebagai "salah satu [upaya lobi] paling keras yang pernah dialami Kongres." Namun sementara pemerintah berhasil memenangkan pertempuran, Israel dan AIPAC telah membuat suatu ketentuan keras: jika pemerintah menghalangi keinginan-keinginan Israel, ia harus membayar banyak dengan waktu, tenaga dan akhirya, gengsi politik.

Paul Findley mengatakan bagi para perumus undang-undang pesan itu sama seramnya. Sebagaimana dicatat oleh Profesor Cherly A. Rurenberg, seorang kritikus yang berpandangan luas tentang hubungan AS-Israel:

"Sejak itu cara seorang senator memberikan suaranya dalam masalah ini menjadi faktor paling penting dalam menentukan sikap lobi [Israel] tentang 'persahabatan' seorang individu dengan Israel. Mereka yang dicap 'tidak bersahabat' akan menghadapi masalah-masalah serius pada pemilihan kembali.

Sesungguhnya, kata Paul Findley, terutama dikarenakan dukungannya pada penjualan AWACS itulah maka Senator Republik yang sangat dihormati, Charles Percy, dikalahkan pada 1984.

Setelah pemilihan, Thomas Dine dari AIPAC menyatakan: "Semua orang Yahudi di Amerika, dari pantai ke pantai, bersatu untuk mengusir Percy. Dan para politisi Amerika --mereka yang memegang jabatan publik sekarang, dan mereka yang berkeinginan untuk itu-- menerima pesan tersebut."

Memacu Diri

Sejak kekalahan AWACS, AIPAC telah sepenuhnya berhasil memacu diri dan berkembang sangat pesat. Hendrick Smith melaporkan dalam The New York Times bahwa "anggarannya berlipat delapan kali (mencapai $6,1 juta) dalam waktu sembilan tahun, keanggotaannya berlipat dari 9000 rumah tangga pada 1978 menjadi 55000 ribu pada 1987, stafnya bertambah dari 25 menjadi 85 lima.

Menjelang pertengahan 1980-an, para pemimpinnya telah mengendalikan dana kira-kira $4 juta dalam bentuk sumbangan-sumbangan kampanye untuk para kandidat yang bersahabat dan hukuman bagi lawan-lawan politik."

Sebagaimana dikatakan Dine: "Pertikaian AWACS merupakan sebuah titik penting. Kita kalah dalam pemilihan suara namun memenangkan isu itu."

(mhy)
Miftah H. Yusufpati

No comments: