Kisah Addas, Budak Nasrani yang Mencium Kaki Rasulullah

Addas berikan buah kepada Nabi SAW yang sedang beristirahat usai diusir dari Thaif. Red: Hasanul Rizqa Masjid Addas di dekat Thaif, Arab Saudi.
Foto: dok wiki
Masjid Addas di dekat Thaif, Arab Saudi.
Kisah ini terjadi pada masa ketika Nabi Muhammad SAW belum berhijrah. Kala itu, Rasulullah SAW menyebarkan risalah Islam kepada penduduk Makkah dan sekitar.

Namun, penduduk lokal justru bersikap sangat kasar kepada beliau. Bahkan, Rasul SAW dilempari batu dan dicaci-maki. Sang Khatam al-anbiya pun pergi keluar dari Thaif dengan keadaan kaki dan tubuh penuh luka.

Pada saat itulah, datang malaikat penjaga gunung sekitar Thaif. Kepada Nabi SAW, makhluk itu berkata, "Wahai Muhammad! Angkatlah tanganmu ke langit, dan mintalah kepada Allah agar penduduk Thaif ditimpa azab. Demi Allah, aku ingin sekali melempar gunung ini kepada mereka karena tidak tega melihat engkau diperlakukan sedemikian buruk!"

Alih-alih begitu, Rasulullah SAW berdoa kepada Allah agar kiranya hidayah Illahi melunakkan hati mereka. "Walaupun mereka menolak ajaran Islam, aku berharap padakehendak Allah. Semoga kelak keturunan mereka akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya,” kata beliau kepada pendampingnya, Zaid. Kalimat ini tentunya juga didengar si malaikat penjaga gunung.

Nabi SAW dan Zaid merasa lelah sesudah berjalan menjauh dari perbatasan Thaif. Tampaklah oleh mereka sebuah lahan perkebunan di depan. Keduanya lalu mendekati kebun anggur itu, yang belakangan diketahui adalah milik Utbah dan Syaibah, yakni anak-anak Rabi'ah.

Utbah dan Syaibah melihat kedatangan Muhammad SAW dan Zaid. Timbul rasa iba mereka kepada tamu di kebunnya itu. Para putra Rabi'ah ini lantas mengirimkan budaknya yang bernama Abbas kepada Rasul SAW dan Zaid, yang sedang berteduh di bawah pohon.

"Bawalah sekantong anggur ini, dan berikan kepada mereka," kata Utbah kepada si budak.

Sesampainya di tempat Nabi SAW dan Zaid berteduh, Addas pun memberikan amanat tuannya itu. Setelah mengucapkan terima kasih, Rasulullah SAW bersiap memakan buah anggur itu. Terlebih dahulu, beliau mengucapkan “Bismillah.”

Terkejutlah Addas mendengar kata-kata itu. "Belum pernah ada penduduk sini yang mengucapkan kalimat demikian," gumam budak ini.

“Siapa namamu?” tanya Nabi SAW.

“Saya dari Niniveh,” jawab Addas.

“Kota nabi yang saleh, Yunus bin Matta,” ujar Rasul SAW.

Mendengar perkataan itu, jantung Addas seperti akan copot. Bagaimana mungkin tamu nan misterius ini mengetahui soal Nabi Yunus?

“Dia itu saudaraku. Dia adalah seorang nabi yang Allah utus untuk menyampaikan risalah kepada kaum di sana. Aku pun seorang nabi,” kata Rasulullah SAW.

Setelah itu, beliau menjelaskan tentang kisah Nabi Yunus secara lengkap. Addas mendengarnya dengan mata penuh haru.

Sesudah itu, budak tersebut seketika menundukkan badannya. Ia pun mencium tangan dan kedua kaki Rasul SAW.

Dari kejauhan, Utbah dan Syaibah menyaksikan perilaku budak mereka itu. Mereka lantas berteriak, memanggil Addas pulang.

“Mengapa kamu mencium kaki orang itu!?” tanya Utbah kepada Addas setengah membentak.

“Lelaki itu sungguh adalah manusia terbaik di muka bumi ini. Dia mengisahkan kepadaku tentang seorang nabi yang diutus kepada kaum kami. Dia menceritakan kisah yang hanya diketahui oleh seorang utusan Allah,” jawab Addas.

“Siapa yang kau maksud?”

“Yunus bin Matta,” kata dia.

“Lantas?”

“Lelaki itu juga mengatakan, dia pun adalah seorang nabi yang diutus oleh Allah,” jelas budak tersebut, berterus-terang.

“Bukankah kamu seorang Nasrani?” tanya Utbah lagi.

“Ya benar.”

“Tetaplah kamu dalam agamamu! Jangan mau tertipu perkataan lelaki tadi,” ketus Utbah.

Menyadari Addas tak kembali, Rasul SAW dan pendampingnya lalu melanjutkan perjalanan kembali.

Berbagai riwayat menyebut, Addas sesudah perjumpaannya dengan Nabi SAW itu langsung menyatakan diri berislam. Kelak, sebuah masjid didirikan di dekat Thaif dan mengadopsi namanya: Masjid Addas.Rol

No comments: